UY0EvzZgeEEo4KiQ1NIivy9VYY1PQHFF9n6p7Enr
Bookmark

Ritual Penyucian Kawasan Pusat Kebudayaan Bali: Upaya Menjaga Harmoni Sebelum Pembangunan Fisik

Gubernur Koster memimpin langsung Upacara Tawur Agung Labuh Gentuh, Pangruak Bhumi, Bhumi Sudha, Panegteg Jagat, hingga Pitra Dekot. (Foto: Istimewa) 

KLUNGKUNG, LIPUTANINFOWARGA.COM – Menjelang dimulainya tahap pembangunan zona inti Kawasan Pusat Kebudayaan Bali (PKB), Gubernur Bali, Wayan Koster, melaksanakan rangkaian persembahyangan sakral di Kabupaten Klungkung. Ritual yang bertepatan dengan hari suci Kajeng Kliwon Enyitan, Senin (29/12/2025), ini menjadi landasan spiritual bagi proyek strategis tersebut.

Gubernur Koster memimpin langsung Upacara Tawur Agung Labuh Gentuh, Pangruak Bhumi, Bhumi Sudha, Panegteg Jagat, hingga Pitra Dekot. Prosesi ini bukan sekadar tradisi, melainkan syarat mutlak dalam kosmologi Bali untuk memastikan kesiapan lahan secara niskala (spiritual) sebelum tersentuh aktivitas konstruksi besar.

Puncak prosesi ditandai dengan ritual Nyakupang Karang dan Nuwek Bagia yang dilakukan secara khidmat oleh Gubernur. Upacara ini bertujuan untuk menyucikan alam lingkungan sekitar sekaligus memohon izin serta restu dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa).

Secara filosofis, rangkaian ritual ini merupakan implementasi dari konsep Tri Hita Karana, yakni menjaga keseimbangan hubungan antara manusia, alam semesta, dan sang pencipta.

"Pelaksanaan upacara ini adalah bagian dari rangkaian prosesi niskala sebagai bentuk penyucian. Kita memohon keharmonisan agar seluruh tahapan pembangunan berjalan lancar dan memberikan manfaat bagi masyarakat Bali," ujar Gubernur di sela-sela prosesi.

Langkah spiritual ini dilakukan sebagai persiapan akhir sebelum alat berat mulai bekerja di Zona Inti Kawasan Pusat Kebudayaan Bali yang dijadwalkan mulai digarap pada tahun 2026 mendatang. Dengan dilaksanakannya ritual Bhumi Sudha dan Pangruak Bhumi, lahan tersebut dianggap telah "dibersihkan" secara rohani sehingga siap ditata menjadi pusat pelestarian budaya.

Kawasan Pusat Kebudayaan Bali di Klungkung diproyeksikan menjadi ikon baru bagi peradaban Bali modern yang tetap berpijak pada nilai-nilai tradisi. Melalui upacara ini, pemerintah berharap pembangunan fisik yang akan datang tidak hanya megah secara infrastruktur, tetapi juga memiliki "jiwa" dan selaras dengan alam sekitar. (*)