SUARABANTAS.COM, Taheran – Mata uang Iran, Rial (IRR), mengalami depresiasi ekstrem yang menempatkan stabilitas ekonomi negara tersebut dalam titik nadir. Tidak hanya rontok terhadap dolar Amerika Serikat (AS), Rial kini mencatatkan nilai terendah sepanjang sejarah terhadap Rupiah (IDR), memberikan fenomena "keuntungan instan" bagi pemegang mata uang Indonesia di Negeri Para Mullah tersebut.
Berdasarkan data perdagangan pada Rabu (14/1/2026), nilai tukar Rial merosot tajam ke level 59.663 rial per satu rupiah. Dengan kalkulasi tersebut, warga Indonesia yang menukarkan uang senilai Rp1 juta akan mendapatkan jumlah fantastis sekitar 59,6 miliar rial. Angka ini mencerminkan pelemahan sebesar 31,95% terhadap Rupiah dalam periode yang sangat singkat.
Depresiasi Ekstrem dalam Setahun
Kondisi ekonomi Iran saat ini memasuki fase krisis yang mengkhawatirkan. Melansir data Refinitiv, pergerakan mata uang Iran menunjukkan tren terjun bebas yang tidak lazim.
Pada akhir tahun 2025, nilai tukar masih berada di kisaran 45.000 rial per US1. Namun, hanya dalam waktu kurang dari satu tahun, nilai tersebut anjlok hingga **1,04 juta rial per US1**. Secara akumulatif, Rial telah melemah sekitar 2.388% sejak awal tahun 2025.
Penyebab Kerapuhan Ekonomi
Anjloknya nilai tukar ini merupakan akumulasi dari berbagai tekanan berat yang menghantam Teheran. Para analis ekonomi menyoroti beberapa faktor kunci yang memicu fenomena ini:
* Inflasi Tak Terkendali: Lonjakan harga barang pokok yang menggerus daya beli masyarakat.
* Defisit Cadangan Devisa: Menipisnya stok mata uang asing untuk mengintervensi pasar.
* Krisis Kepercayaan: Masyarakat domestik mulai meninggalkan Rial dan beralih ke aset aman (safe haven), yang memperparah pelarian modal.
Pelemahan tajam terhadap Rupiah membuktikan bahwa krisis ini tidak hanya terjadi akibat penguatan Dolar AS secara global, namun merupakan refleksi dari rapuhnya fundamental ekonomi internal Iran dibandingkan mata uang negara berkembang (emerging markets) lainnya.
Hingga berita ini diturunkan, gejolak domestik di Iran dilaporkan terus membesar seiring dengan ketidakpastian stabilitas ekonomi nasional yang kian rentan. (*)

