![]() |
| Bupati Tabanan menghadiri upacara Karya Ngenteg Linggih, lan Tawur Balik Sumpah di Pura Dalem Desa Adat Penebel padaKamis (26/3). (Foto: Istimewa) |
SUARABANTAS.COM, Tabanan – Sebagai bentuk komitmen dalam menjaga kelestarian adat dan tradisi di tengah modernisasi, Bupati Tabanan, Dr. I Komang Gede Sanjaya, S.E., M.M., menghadiri upacara sakral di Pura Dalem Desa Adat Buruan, Desa Buruan, Kecamatan Penebel, Kamis (26/3/2026).
Kehadiran pucuk pimpinan daerah tersebut bertujuan untuk ngupasaksi (menyaksikan dan mensahkan secara spiritual) rangkaian Karya Agung Mamungkah, Ngenteg Linggih, lan Tawur Balik Sumpah. Upacara ini merupakan salah satu tingkatan yadnya tertinggi dalam sistem kepercayaan masyarakat Hindu di Bali untuk menyucikan tempat suci serta memohon keseimbangan alam.
Sinergi Pemerintah dan Krama Adat
Dalam kunjungan tersebut, Bupati Sanjaya didampingi oleh Wakil Bupati I Made Dirga, anggota DPR RI, perwakilan DPRD Kabupaten Tabanan, Sekretaris Daerah, serta jajaran Kepala Perangkat Daerah terkait. Kehadiran jajaran pejabat lintas instansi ini mempertegas sinergi antara pemerintah dan krama (warga) dalam menjaga warisan leluhur.
Bupati Sanjaya menegaskan bahwa dukungan terhadap kegiatan adat bukan sekadar seremonial, melainkan bagian integral dari visi pembangunan daerah yang menempatkan kebudayaan sebagai hulu.
"Kehadiran pemerintah di tengah-tengah krama adalah wujud nyata komitmen kami untuk terus mengawal tradisi dan budaya Bali tetap ajeg. Ini adalah pondasi penting dalam membangun daerah, baik secara sekala (fisik) maupun niskala (spiritual)," ujar Bupati Sanjaya.
Gotong Royong Sebagai Fondasi Pembangunan
Bupati juga memberikan apresiasi mendalam terhadap semangat gotong-royong yang ditunjukkan oleh masyarakat Desa Adat Buruan. Keberhasilan menyelenggarakan karya besar dengan swadaya dan kebersamaan dinilai sebagai bentuk nyata penguatan sraddha bhakti (keyakinan dan ketakwaan) kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
Lebih lanjut, semangat kebersamaan ini dipandang sebagai modal sosial utama untuk mendukung visi Tabanan Era Baru yang Aman, Unggul, dan Madani (AUM). Melalui pelestarian budaya yang kuat, diharapkan jati diri masyarakat Tabanan tetap kokoh sebagai pilar pembangunan daerah yang berkelanjutan.
Upacara yang berlangsung khidmat di bawah kaki Gunung Batukau ini menjadi momentum penguatan ikatan spiritual masyarakat sekaligus penanda harmoni antara manusia, alam, dan pencipta. (*)

