SUARABANTAS.COM, Buleleng – Kabupaten Buleleng terus memperkuat posisinya sebagai destinasi wisata alternatif di Bali yang kaya akan nilai sejarah dan budaya. Berbeda dengan kawasan Bali Selatan yang didominasi oleh wisata pantai modern, Buleleng menawarkan pesona wisata edukasi berlatar belakang rekam jejak masa lalu. Salah satu situs bersejarah yang kini menjadi daya tarik utama wisatawan domestik maupun mancanegara adalah Museum Soenda Ketjil.
Museum yang terletak di kawasan Eks Pelabuhan Buleleng, Jalan Pelabuhan Buleleng, Kampung Bugis, Kecamatan Buleleng ini, didirikan untuk mengabadikan memori kolektif saat Kota Singaraja berperan sebagai ibu kota pertama Provinsi Bali sekaligus pusat Pemerintahan Provinsi Sunda Kecil pada awal masa kemerdekaan Indonesia. Wilayah administratif Sunda Kecil kala itu mencakup tiga wilayah besar, yakni Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT).
Kawasan ini sangat strategis dan mudah diakses oleh para pelancong. Dari pusat Kota Singaraja, museum dapat ditempuh dalam waktu 10 hingga 15 menit berkendara. Sementara bagi wisatawan yang bergerak dari arah Kota Denpasar, perjalanan menuju lokasi memerlukan waktu sekitar 2,5 jam menggunakan kendaraan bermotor.
Mengenang Perjuangan I Gusti Ketut Pudja
Secara fungsional, Museum Soenda Ketjil merawat dan memamerkan berbagai artefak, dokumen pemerintahan, arsip nasional, serta foto-foto dokumentasi autentik yang menggambarkan dinamika politik dan perdagangan di Bali Utara. Narasi utama yang diangkat di dalam museum ini adalah rekam jejak kepemimpinan dan perjuangan pahlawan nasional I Gusti Ketut Pudja, yang merupakan gubernur pertama sekaligus terakhir Provinsi Sunda Kecil.
Daya tarik visual museum ini langsung terasa dari arsitektur bangunannya yang mengadopsi gaya kolonial Belanda kuno yang telah berusia lebih dari setengah abad. Saat memasuki ruangan, pengunjung akan disuguhi interior dinding yang dipenuhi oleh dokumentasi lini masa perkembangan Kota Singaraja dari era pelabuhan dagang purba hingga menjadi pusat administrasi regional.
Pengelola museum menetapkan jam operasional yang terbagi dalam dua skema penanggalan:
- Senin – Kamis: Buka mulai pukul 08.00 hingga 14.30 WITA.
- Jumat – Sabtu: Buka mulai pukul 08.00 hingga 12.00 WITA.
Tarif retribusi masuk yang dikenakan kepada pengunjung dinilai sangat kompetitif untuk ukuran destinasi wisata edukasi. Kategori anak-anak dikenakan tarif Rp5.000, kategori dewasa domestik sebesar Rp10.000, sedangkan untuk wisatawan mancanegara dikenakan biaya Rp25.000 per orang.
Pengalaman Wisata Terintegrasi
Keunggulan geografis Museum Soenda Ketjil berada pada konsep wisata terintegrasi yang ditawarkannya. Setelah menghabiskan waktu sekitar 30 hingga 60 menit mempelajari sejarah di dalam ruang pameran, wisatawan dapat langsung berjalan kaki mengeksplorasi kawasan luar ruangan di tepi laut Bali Utara. Di sekitar museum, terdapat beberapa fasad bangunan tua peninggalan Belanda yang menambah atmosfer nostalgia bagi para pencinta fotografi.
Bagi wisatawan yang merencanakan kunjungan, disarankan untuk datang pada pagi hari guna menghindari suhu udara yang terik. Penggunaan pakaian yang berbahan ringan serta persiapan daya baterai gawai yang optimal sangat dianjurkan agar pengalaman mendokumentasikan situs bersejarah ini berjalan dengan nyaman dan maksimal. (*)

