UY0EvzZgeEEo4KiQ1NIivy9VYY1PQHFF9n6p7Enr
Bookmark

Monumen Bantas Pucuk Peristiwa Pertempuran Melawan Penjajah Jepang

SUARA BANTAS. Perjuangan melawan penjajah yang dilakukan oleh pejuang kemerdekaan untuk mengusir penjajah, sudah sepatutnya kita sebagai generasi penerus, semangat dan perjuangan mereka para pahlawan perlu kita teladani. Menapak sejarah keberadaan Monumen Perjuangan di Bantas Pucuk diceritakan oleh Ni Wayan Mangeb (97) kelahiran Bangkyang Mayung, Desa Meliling dan menikah ke Br. Bantas Bale Agung, Desa Bantas. 

Ni Wayan Mangeb (saksi sejarah) menceritakan kepada Suara Bantas Jumat, (30/4/2021) bagaimana terjadinya peristiwa pertempuran rakyat waktu itu mengusir penjajah Jepang, dimana lokasi pertempuran tersebut tepat terjadi di area Monumen Bantas Pucuk sebagai sentra pejuang untuk mengusir tentara Jepang. Mereka membawa Tank dan alat tempur yang canggih sementara pejuang rakyat seadanya.

Monumen Perjuangan di Bantas Pucuk

Rencana pejuang rakyat adalah menghalau akses transportasi perjalanan tentara Jepang dari arah Denpasar dan Gilimanuk dengan cara merobohkan, menjebol Jembatan Lama yang dijalur Br. Bantas Pucuk tersebut. Namun informasi ini bocor, upaya untuk menggagalkan perjalanan Tentara Jepang pun tidak sesuai rencana.

Tentara Jepang kemudian membakar rumah-rumah penduduk bersama antek-anteknya di wilayah Bangkyang Mayung, dan Desa Bantas. Lautan api terjadi di Desa Bantas. Para pejuang rakyat melawan tentara Jepang dengan sarana seadanya seperti bambu runcing, keris dan tombak. Pertempuran terjadi selama 3 hari, 3 malam didaerah Bantas Pucuk. Waktu itu sebelum tahun 1942 belum ada Tentara mereka namanya pejuang rakyat, pejuang kemerdekaan.

Ni Wayan Mangeb mengatakan 3 (tiga) tokoh terlupakan yang mengkordinir pertempuran melawan penjajah Jepang waktu itu sekitar tahun 1941-1942 adalah:

 (1). I Ketut Glebes (alm) alias Pan Rekeg asal Bantas Bale Agung, Desa Bantas  (saudaranya Nang Konolan usia belasan tahun  di kirim ke Slebes Sulawesi kerja paksa oleh penjajah dan tidak ada kabar)  "hal inilah yang memacu semangat I Ketut Glebes untuk melakukan  pergerakan melawan penjajah. I Ketut Glebes pernah disiksa oleh penjajah direndam dalam air yang berisi cabe dan disiksa secara fisik.

(2). I Ketut Nganta (alm) asal Bantas Bale Agung, Desa Bantas pernah dipukul wajahnya pakai laras panjang oleh penjajah sampai giginya rontok serta hukuman fisik lainnya disampaikan juga oleh cucunya I Wayan Sukanta /Pekak Eko.

(3). I Nyoman Murda /Nang Retig (alm) asal Bantas Bale Agung, Desa Bantas pernah menjadi Kepala Desa dan gugur tertembak disampaikan juga oleh cucunya I Wayan Sukarya /Pekak Ayung.

Ni Wayan Mangeb menuturkan pola pendidikan Jepang disiplin lahan-lahan seperti natah rumah disuruh untuk ditanami cabe, sayuran dan  tanaman yang produktif agar bisa dimanfaatkan untuk konsumsi.

Namun yang namanya penjajah, rakyat dibikin menderita padi-padi yang ada dilumbung dijarah dibawa ke Markas mereka. Beras-beras untuk konsumsi masyarakat dibuang agar terjadi kelaparan dan penyakit.

Setelah pertempuran 3 hari 3 malam banyak juga dari pihak Jepang yang tewas, bocornya informasi rencana pejuang rakyat merobohkan Jembatan Pucuk karena terjadi penghianatan, mereka sebenarnya tentara Jepang tidak tahu data wilayah, mereka lebihnya hanya pada peralatan yang memadai. Jasad - jasad tentara Jepang kemudian dinaikan ke truck untuk diangkut.

Monumen Perjuangan selatan jembatan lama Bantas Pucuk

Ni Wayan Mangeb sempat mengenyam pendidikan setingkat kelas 2 SD dengan atap klangsah, tiyang bambu dan masa mudanya sempat ikut organisasi kewanitaan tapi lupa namanya. Pejuang rakyat juga banyak yang gugur mempertaruhkan jiwa raga untuk Pertiwi.

Dari kondisi tersebut dan kejadian yang mereka alami hal inilah yang membuat ke tiga tokoh pejuang tersebut untuk melakukan perlawanan kepada penjajah Jepang, penjajahan menyebabkan penderitaan. Pesan Ni Wayan Mangeb kepada generasi penerus di Bantas jangan melupakan sejarah, perjuangan para pahlawan sebelum kemerdekaan harus kita teladani tetap bersatu, "ujarnya.

Monumen patung pahlawan mengenang jasa mereka yang telah berjuang untuk memerdekakan negeri ini

Sementara I Wayan Sukanta cucu pejuang I Ketut Nganta dulu kakeknya bersama rekan-rekanya di Br. Bantas Bale Agung tidak mendapatkan pengakuan Veteran sebagai pejuang karena beda partai pada waktu itu.

Di Br. Bantas Bale Agung sebagian besar Partai Sosialis sementara Di Desa Bantas didominasi oleh PNI, I Wayan Sukanta alias Pekak Eko,  menambahkan bangga dengan perjuangan kakeknya bersama kedua rekannya yang mengkordinir pergerakan melawan penjajah Jepang khususnya di wilayah Bantas dengan mempertaruhkan jiwa raga, walau tidak pernah mendapat pengakuan hanya karena beda partai demikian, "ungkapnya. (Adi)