UY0EvzZgeEEo4KiQ1NIivy9VYY1PQHFF9n6p7Enr
Bookmark

Aksi Nyata Ketua TP PKK Tabanan: Sosialisasi Posyandu hingga Tinjau Pengolahan Sampah di Desa Denbantas

Ny. Rai Wahyuni Sanjaya melaksanakan Sosialisasi Kulkul PKK dan Posyandu serta Kunjungi Tempat Pengolahan Sampah Plastik “Bali Harmoni” di Denbantas. (Foto: Istimewa) 

SUARABANTAS.COM, Tabanan – Sebagai upaya nyata mewujudkan Bali Bersih Sampah, Ketua TP PKK Kabupaten Tabanan, Ny. Rai Wahyuni Sanjaya, melakukan langkah strategis dengan mengintegrasikan tradisi lokal dan teknologi modern. Pada Rabu (11/2), Ny. Rai Wahyuni Sanjaya menyosialisasikan Gerakan Kulkul PKK sekaligus meninjau inovasi pengolahan sampah plastik menjadi Bahan Bakar Minyak (BBM) di Desa Denbantas, Tabanan.

Kegiatan diawali dengan sosialisasi Gerakan Kulkul PKK dan Posyandu 6 SPM yang dilakukan secara daring. Program unggulan TP PKK Provinsi Bali ini bertujuan membangkitkan kembali semangat gotong royong masyarakat. Setiap Minggu pertama setiap bulan, pukul 06.00–08.00 WITA, suara kulkul bambu akan menjadi komando bagi warga untuk serentak membersihkan lingkungan mulai dari halaman rumah hingga tempat suci.

Penggunaan kulkul sebagai simbol komunikasi tradisional dinilai efektif untuk membangun kesadaran kolektif dalam menjaga sanitasi lingkungan dari sumbernya.

Usai sosialisasi, sosok yang akrab disapa Bunda Rai ini mengunjungi komunitas "Bali Harmoni" di Desa Denbantas. Di lokasi tersebut, ia mengapresiasi terobosan Imam Kambali yang berhasil mengoperasikan mesin pirolisis. Teknologi ini mampu mengonversi sampah plastik menjadi bahan bakar seperti bensin, solar, dan minyak tanah.

"Ini adalah inovasi luar biasa. Sampah plastik yang selama ini menjadi beban lingkungan ternyata bisa diolah menjadi BBM yang bermanfaat bagi kehidupan sehari-hari," ujar Bunda Rai di sela kunjungannya.

Bunda Rai menekankan pentingnya pengolahan sampah berbasis sumber. Menurutnya, kolaborasi seluruh elemen masyarakat dalam memilah sampah dari rumah adalah kunci untuk mengurangi beban Tempat Pembuangan Akhir (TPA) secara signifikan.

Meski inovatif, Imam Kambali menjelaskan bahwa proses pirolisis memiliki syarat ketat: sampah harus dalam kondisi kering sempurna. Kendala utama muncul saat musim penghujan karena proses penjemuran material terhambat.

Selain itu, tidak semua jenis plastik dapat diproses dengan mesin ini. Jenis plastik seperti PET (botol bening), PVC, dan PC tetap diarahkan ke industri daur ulang untuk menjadi biji plastik. Namun, plastik kresek yang biasanya bernilai ekonomi rendah justru menjadi bahan baku utama yang sangat baik untuk dikonversi menjadi BBM.

Tak berhenti di sampah anorganik, komunitas Bali Harmoni juga menerapkan sistem sirkular untuk sampah organik:
* Sampah Organik diolah menjadi pakan ikan.
* Limbah Ikan dimanfaatkan sebagai pupuk organik cair.
* Hasilnya digunakan untuk budidaya hortikultura seperti cabai dan pepaya.
Sistem ini diklaim mampu menekan residu sampah hingga tersisa hanya 1–2 persen saja.

Bunda Rai berharap model pengolahan di Desa Denbantas ini dapat menjadi role model bagi desa-desa lain di Kabupaten Tabanan. Penanganan sampah bukan lagi sekadar membuang, melainkan mengelola secara cerdas untuk menciptakan lingkungan yang sehat dan berkelanjutan bagi generasi mendatang. (*)