SUARABANTAS.COM, Tabanan – Masyarakat Desa Adat Sanggulan, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, kembali menunjukkan soliditas dalam melestarikan tradisi melalui upacara Atiwa-tiwa atau Ngaben Massal Ngerit Swastha Geni. Prosesi sakral ini ditinjau langsung oleh Wakil Bupati Tabanan, I Made Dirga, yang hadir mewakili Bupati Tabanan dalam agenda Ngupasaksi di Setra Desa Adat Sanggulan pada Jumat (10/4/2026).
Kegiatan ini menjadi momentum penting bagi krama desa dalam menjalankan kewajiban pitra yadnya secara kolektif. Berdasarkan data panitia, puncak upacara yang dijadwalkan pada Minggu (12/4/2026) mendatang akan melibatkan:
23 Sawa (jenazah) yang akan diabenkan, 17 Sawa Warak Karupon dan 3 Sawa Ngelangkir.
![]() |
| Upacara Pitra Yadnya Massal yang diselenggarakan Desa Adat Sanggulan melibatkan: 23 Sawa (jenazah) yang akan diabenkan, 17 Sawa Warak Karupon dan 3 Sawa Ngelangkir. (Foto: Istimewa) |
Dalam kesempatan tersebut, Wakil Bupati I Made Dirga menyampaikan apresiasi mendalam kepada krama Desa Adat Sanggulan. Beliau menekankan bahwa pelaksanaan ngaben massal bukan sekadar urusan upacara keagamaan, melainkan representasi dari nilai gotong royong yang menjadi fondasi masyarakat Bali.
"Kami sangat mengapresiasi kebersamaan masyarakat di sini. Pelaksanaan karya yang dilakukan secara massal ini membuktikan bahwa beban berat jika dipikul bersama akan terasa ringan, sekaligus menjadi bukti komitmen kita dalam menjaga kelestarian adat dan tradisi di Tabanan," ujar Wabup Dirga.
Acara Ngupasaksi ini juga dihadiri oleh deretan tokoh penting sebagai bentuk dukungan moral terhadap kegiatan adat. Selain Jero Mangku Lanang Istri dan para pemuka agama, tampak hadir anggota DPR RI, DPD RI, serta jajaran anggota DPRD Kabupaten Tabanan.
Dukungan birokrasi pun terlihat dengan kehadiran para Kepala Perangkat Daerah di lingkungan Pemkab Tabanan, Camat Kediri beserta unsur Forkopimcam, Paiketan Bendesa Adat, hingga Bendesa Adat Sanggulan. Kehadiran para pejabat ini menegaskan sinergi antara pemerintah dan lembaga adat dalam menjaga stabilitas sosial dan budaya.
Melalui tradisi ngaben massal ini, Desa Adat Sanggulan diharapkan dapat terus menjaga warisan leluhur di tengah arus modernisasi, sembari meringankan beban finansial krama tanpa mengurangi nilai luhur dari upacara itu sendiri. (*)


