![]() |
Duta Pengelolaan Sampah Berbasis Sumber Palemahan Kedas (PSBS PADAS. (Foto: Istimewa) |
SUARABANTAS.COM, Denpasar – Pemerintah Provinsi Bali melalui Duta Pengelolaan Sampah Berbasis Sumber Palemahan Kedas (PSBS PADAS), Ibu Putri Koster, Selasa, (26/8) di Denpasar, dalam sambutanya mengajak seluruh masyarakat Bali untuk mengubah cara pandang dan tindakan dalam mengelola sampah. Ajakan ini berfokus pada penyelesaian masalah sampah domestik secara mandiri, dengan meninggalkan ketergantungan pada Tempat Pengelolaan Sampah (TPA) Suwung yang selama ini menerapkan sistem open dumping dan pembakaran sampah.
Ajakan ini merupakan respons terhadap bahaya serius yang ditimbulkan oleh praktik open dumping di TPA Suwung. Sampah yang ditumpuk tanpa pengelolaan khusus menyebabkan pencemaran udara dan air, menjadi sumber penyakit, serta merusak estetika lingkungan. Karena dampak negatif tersebut, pemerintah kini melarang praktik open dumping dan mendorong implementasi sistem pengelolaan yang lebih ramah lingkungan, seperti sanitary landfill.
![]() |
Duta PSBS PADAS dipimpin Ibu Putri Koster, menyerukan agar masyarakat Bali beralih ke pola pengelolaan sampah mandiri dan bertanggung jawab Selasa, (26/8) di Denpasar. (Foto: Istimewa) |
Gerakan ini dipimpin oleh Ibu Putri Koster selaku Duta PSBS PADAS. Ia mengajak seluruh lapisan masyarakat Bali untuk berpartisipasi aktif dalam menyelesaikan permasalahan sampah dari sumbernya, yaitu dari rumah.
Pernyataan ini dilontarkan dalam konteks upaya berkelanjutan pemerintah Provinsi Bali untuk mengatasi krisis sampah yang semakin mendesak. Meskipun tidak disebutkan secara spesifik kapan dan di mana pernyataan ini disampaikan, relevansinya sangat erat dengan kondisi terkini TPA Suwung dan kebijakan pengelolaan sampah di Bali.
Langkah ini diambil karena metode lama yang bergantung pada TPA Suwung terbukti merusak lingkungan. Ibu Putri Koster menegaskan bahwa masyarakat tidak bisa lagi pasrah dan melanjutkan pola yang keliru ini. Perubahan ini menjadi sangat penting mengingat waktu terus berjalan, sehingga diperlukan kolaborasi dan sinergi yang cepat dan tegas dari berbagai pihak.
Ibu Koster mengimbau masyarakat untuk memulai pemilahan sampah sejak dari sumbernya, terutama sampah organik. Ia menyarankan penggunaan komposter atau teba modern untuk mengelola sampah organik. Dengan demikian, sampah yang diangkut oleh truk pengangkut sudah berkurang volumenya dan terpilah, sehingga tidak menumpuk di TPA. Ini adalah solusi yang ia sebut sebagai "menyelesaikan sampah organik kita di rumah" sebelum diangkut. (*)