![]() |
| Masyarakat Desa Adat Bantas melaksanakan persembahyangan Siwaratri pada Sabtu (17/1) di Pura Dalem Desa Adat Bantas. |
SUARABANTAS.COM, Tabanan – Krama umat Hindu di Desa Adat Bantas, Kecamatan Selemadeg Timur, melaksanakan persembahyangan suci dalam rangka hari raya Siwaratri yang jatuh pada Sabtu (17/1/2026). Bertempat di Pura Dalem setempat, prosesi berlangsung khidmat dengan penerapan pembagian sesi persembahyangan.
Kegiatan ini dihadiri oleh jajaran tokoh adat dan masyarakat, mulai dari Pemangku, Juru Sapuh, Juru Sunggi, hingga jajaran Pejuru Desa Adat dan Pejuru Banjar Adat. Tak ketinggalan, Krama Banjar Bantas Bale serta para yowana (pemuda-pemudi) turut hadir sembahyang untuk memaknai malam Siwa Ratri tersebut.
Kegiatan persembahyangan dilaksanakan dalam tiga sesi waktu, yakni:
* Sesi I: Pukul 18.00 WITA
* Sesi II: Pukul 21.00 WITA
* Sesi III: Pukul 24.00 WITA (Puncak Malam Siwaratri)
Sebagai bagian utama dari ritual setelah persembahyangan, juga melaksanakan tradisi metik daun bila. Ritual memetik dan mempersembahkan daun ini merupakan simbolisasi dari perenungan dosa dan upaya manusia untuk mendekatkan diri kepada cahaya kesadaran Tuhan. Melalui rangkaian persembahyangan ini, diharapkan krama Desa Adat Bantas mendapatkan tuntunan spiritual dan kedamaian batin di tahun yang baru ini.
Makna Siwaratri dan Daun Bila
Berdasarkan sastra agama Hindu dan sastra Lubdaka, berikut adalah penjelasan mengenai kedua unsur tersebut:
1. Makna Siwaratri
Siwaratri berasal dari dua kata, yaitu Siwa (Tuhan) dan Ratri (Malam). Secara harfiah, Siwaratri berarti "Malam Siwa".
* Malam Perenungan: Siwaratri sering disebut sebagai malam "peleburan dosa". Namun, makna sejatinya adalah malam japa atau malam kesadaran, di mana umat manusia diingatkan untuk tidak tertidur dalam "kegelapan" duniawi (kebodohan/avidya).
* Brata Siwaratri: Umat biasanya melaksanakan tiga brata utama: Jagra (tidak tidur/begadang sebagai simbol kewaspadaan diri), Upawasa (tidak makan dan minum sebagai simbol pengendalian diri), dan Mona (tidak berbicara sebagai simbol pengendalian kata-kata).
2. Makna Daun Bila (Daun Maja)
Daun Bila memiliki kedudukan yang sangat sakral dalam pemujaan Dewa Siwa.
Keberadaannya berkaitan erat dengan mitologi Lubdaka yang secara tidak sengaja menjatuhkan daun bila ke atas Lingga (simbol Siwa) saat terjaga di atas pohon.
* Simbol Trinitas: Daun bila umumnya memiliki tiga helai daun dalam satu tangkai. Dalam teologi Hindu, ini melambangkan Trisula atau Tri Murti (Brahma, Wisnu, Siwa), serta Tri Kaya Parisudha (berpikir, berkata, dan berbuat yang baik).
* Penyucian Diri: Menjatuhkan atau mempersembahkan daun bila saat malam Siwaratri adalah simbol penyerahan diri manusia yang penuh khilaf di hadapan kemahakuasaan Tuhan. Daun ini diyakini mampu menetralisir energi negatif dan menjadi sarana penghubung antara pemuja dengan Sang Pencipta dalam keheningan malam. (Adi)

